Minggu, 10 April 2011

Semut

Di sekitar kita mungkin ada banyak semut yang berjalan beriringan bahkan saling berciuman satu sama lain. Ketika mengamati peristiwa alamiah itu, hati saya terusik oleh serangkaian peristiwa memalukan yang dilakukan oleh sebagian dari kita, manusia. Seperti pembunuhan, pengrusakan rumah ibadah, teror bom, dsj. Kita mesti malu pada semut.

Hidup semut mungkin bukan hidup yang mewah. Tetapi hidup yang penuh sahaja (bersahaja). Mereka berjalan, bekerja, dan berjuang secara bersama-sama dengan penuh tanggung jawab masing-masing. Tidak ada yang saling menjatuhkan, menghina, atau merusak tempat tinggal sesamanya. Sungguh luar biasa. Indah. Menakjubkan. Hebat.

Merenungkan peristiwa alami yang indah itu, saya teringat akan sabda seorang rasul Yesus: "Bersukacilah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis." Pesan sabda ini jelas bahwa kita sebagai manusia harus hidup saling menolong, membahagiakan, dan memperhatikan satu sama lain. Sikap cuek, egoisme, otoriter, munafik, dsj, harus dibuang jauh-jauh dari hidup kita. Seperti semut yang selalu rukun dengan kaumnya.

Marilah kita mengutamakan
kebajikan daripada ketamakan
Kebersahajaan daripada keegoisan
kemuliaan daripada kemunafikan
Kesucian daripada kebobrokan moral

"Hiduplah dengan hati yang bersyukur"

Hening

Tinggal di tepi sebuah sungai dengan suara air gemericik, membuka cakrawala batin akan pentingnya keheningan supaya kita dapat mendengar dan merasakan suara-suara "Tuhan" melalui suara-suara ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita.

Hening memberikan kepada kita ruang yang luas untuk "menerima" keindahan Allah yang telah hadir di sekitar kita. Hanya saja, kita kurang meruangkan hati kita untuk "menerima" kesemuanya: baik-buruk, besar-kecil, tinggi-rendah, dsb.

Untuk itu, kita butuh mengheningkan 5 hal dalam hidup kita:
1. keheningan mata
2. keheningan pikiran
3. keheningan budi
4. keheningan lidah
5. keheningan hati

Dalam keheningan itu, kita meruangkan dan memberikan tempat kepada keindahan untuk masuk dan tinggal di dalam hati kita.....

Jadilah Pribadi yang hening... untuk menhasilkan keheningan-keindahan.

Rabu, 30 Maret 2011

Susah

Dalam kehidupan di dunia yang serba cepat, keras, dan kompetitif menorehkan pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup saya, yaitu susah berjumpa dengan seseorang yang merasa diri penting. Beberapa kali saya mencoba untuk bertemu dengan seseorang pimpinan, selalu tidak ada. "Maaf, Pak, pimpinan saya sedang keluar.", jawab anak buahnya.

inilah salah satu bentuk kekerasan hidup dalam zaman yang serba keras ini. Banyak orang yang merasa diri penting dan mementingkan diri. Dia lupa tanggungjawabnya bahwa seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Dia sok penuh kuasa dan tidak peduli dengan bawahan. Padahal dia bisa menjadi pemimpin karena ada bawahan. Inilah dalam bahasa bijak biasa disebut "telur lupa kulitnya" atau "kacang lupa kulitnya."

Perilaku yang demikian membuat orang lain dan bawahan menjadi susah. Susah urusan, komunikasi, dll.
Apakah anda orang susah????
semoga anda cepat bertobat, seperti Paulus.....

SMP YPPSB: Sekolah Adiwiyata dan SSN

Sekolah dan lingkungan hidup disekitarnya merupakan suatu jalinan ketergantungan yang saling memengaruhi satu sama lain. Sekolah dapat berjalan dengan baik ketika lingkungan di sekitarnya dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap kehidupan sekolah. Demikian juga sebaliknya, lingkungan sekitarnya akan menjadi lebih beradab bila sekolah berhasil membekali peserta didik dengan serangkain nilai hidup, kompetensi, dan etika (moral) dalam hidup bersama. Ada interkorelasi nilai dan budaya.
Dalam konteks itu, sekolah berkomitmen untuk terus menerus menjaga, merawat, melestarikan, dan mengembangkan lingkungan di sekitarnya, terutama lingkungan sekolah. Sebab lingkungan yang sehat, rindang, sejuk, nyaman, dan indah akan mendukung terjadinya proses pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan berdaya guna (useful learning). Di dalam lingkungan yang indah diharapkan tercipta pribadi-pribadi dengan sikap dan perilaku indah juga.
Oleh karena itu, SMP YPPSB dengan penuh komitmen mewujudkan diri sebagai sekolah Adiwiyata yang berstandar nasional (SSN). Pencapaian ini tentu menjadi perjuangan terus-menerus untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dalam perjuangan ini, tentu dibutuhkan tanggung jawab dari semua stakeholders sekolah, tanpa kecuali, mulai dari tukang kebun sampai top management.